Brio vs BYD Atto 1: Mana yang Lebih Hemat Setelah 10 Tahun?
Memilih mobil bukan lagi sekadar soal gaya, melainkan soal kalkulasi ekonomi jangka panjang. Bagi warga komuter di Jabodetabek yang setiap harinya menempuh jarak puluhan kilometer, pertanyaan besarnya adalah: "Mending beli mobil bensin yang sudah terbukti atau beralih ke mobil listrik yang katanya lebih hemat?"
Berikut adalah analisis mendalam mengenai total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership) antara Honda Brio Satya E CVT dan BYD Atto 1 Dynamic dengan simulasi pemakaian 20.000 km per tahun.
1. Investasi Awal: Kejutan dari Mobil Listrik
Secara mengejutkan, harga OTR BYD Atto 1 Dynamic berada di kisaran Rp195 juta, sedikit lebih murah dibandingkan Honda Brio Satya E CVT yang dibanderol sekitar Rp202,5 juta.
Namun, pemilik mobil listrik punya "PR" tambahan. Anda perlu mengalokasikan dana sekitar Rp15 juta untuk instalasi home charging, termasuk biaya tambah daya PLN ke 7.700 VA, pemasangan grounding, dan sertifikasi kelistrikan. Di sisi lain, pembeli Brio bisa langsung tancap gas tanpa biaya infrastruktur tambahan.
2. Biaya Operasional: Pertarungan Bensin vs Listrik
Di sinilah perbedaan mencolok mulai terlihat. Dengan jarak tempuh total 200.000 km selama 10 tahun, berikut perbandingannya:
Energi: Honda Brio akan menghabiskan sekitar Rp148 juta untuk bensin (asumsi Pertamax). Sementara itu, BYD Atto 1 hanya membutuhkan Rp41 juta untuk pengisian daya listrik di rumah. Ada selisih penghematan mencapai Rp107 juta!
Perawatan: Karena komponen mesin listrik lebih sederhana (tanpa ganti oli mesin, filter udara, atau busi secara rutin), biaya servis BYD diperkirakan hanya Rp10 juta, berbanding terbalik dengan Brio yang mencapai Rp22,3 juta.
Pajak (STNK): Berkat insentif pemerintah, pajak tahunan BYD Atto 1 saat ini adalah Rp0, sementara pemilik Brio harus menyisihkan total Rp31 juta selama 10 tahun.
3. Skenario Harga Jual Kembali
Salah satu keunggulan utama Honda Brio adalah nilai jual kembalinya yang stabil. Setelah 10 tahun, Brio diprediksi masih laku terjual di angka Rp118,5 juta.
Bagaimana dengan BYD? Karena teknologi baterai yang terus berkembang dan pasar bekas EV yang belum terbentuk sempurna, dalam simulasi ini harga jual BYD dianggap Rp0 (skenario terburuk). Artinya, Anda dianggap memakai mobil ini sampai "habis".
4. Kesimpulan Akhir: Siapa Pemenangnya?
Jika semua komponen biaya (Harga Beli + Biaya Operasional – Harga Jual) dijumlahkan, inilah hasilnya:
| Komponen Biaya | Honda Brio Satya | BYD Atto 1 Dynamic |
| Total Pengeluaran (10 Thn) | Rp286,1 Juta | Rp261 Juta |
BYD Atto 1 keluar sebagai pemenang lebih hemat sekitar Rp25 juta, bahkan dengan asumsi mobil tersebut tidak laku dijual lagi di tahun ke-10.
Jadi, Pilih yang Mana?
Pilih BYD Atto 1 Jika:
Anda adalah komuter dengan jarak tempuh harian yang jauh (minimal 50 km/hari).
Anda ingin menikmati fitur modern, kabin lebih senyap, dan bebas aturan ganjil-genap.
Anda berniat memakai mobil untuk jangka waktu yang sangat lama.
Pilih Honda Brio Jika:
Anda belum siap berinvestasi pada infrastruktur pengisian daya di rumah.
Jarak tempuh harian Anda relatif rendah (jarang dipakai jauh).
Anda berencana menjual mobil kembali dalam waktu singkat (3-5 tahun) untuk ganti model baru.
Kesimpulannya, mobil listrik akan semakin terasa hematnya seiring dengan semakin seringnya mobil tersebut digunakan. Sebaliknya, jika mobil lebih banyak parkir di garasi, nilai ekonomi dari penghematan bensin tidak akan mampu menutupi biaya depresiasinya.
Lihat Videonya di akun ini biar lengkap https://youtu.be/lraRP4qjNvU?si=F76TOBPF2VshbrPH
Komentar
Posting Komentar